M E N G U A K “T A K D I R”
Beberapa waktu yang lalu setelah terjadinya musibah Tsunami, muncul pernyataan - pernyataan dari berbagai pihak dengan sudut pandangnya masing-masing mengenai mengapa bencana sehebat itu melanda tanah serambi mekah, yang nota bene “berpenduduk muslim dengan budaya keislaman yang kental”. Muslim dengan keislaman yang kental? Ternyata anggapan seperti sedemikian dipertanyakan oleh banyak kalangan. Sebagian dengan tegas menyatakan bahwa tanah Aceh tidak se ”Islam” yang dibayangkan banyak orang. Mereka menuduh Aceh sebagai ladang ganja, tempat maksiat dll. Pendeknya, mereka menyatakan bahwa sesungguhnya disana terjadi banyak sekali penyimpangan norma agama Islam itu sendiri.
Maka dengan itulah Allah “menjentikan jarinya diujung Banda” seperti kata-kata penyanyi cilik Sherina dalam lagunya yang sering dikumandangkan di TV. Sebuah lagu yang ditulis entah berdasarkan sudut pandang apa. “Menjentikan” jari karena Aceh nakal?
Pernyataan yang sangat menyinggung perasaan masyarakat Aceh tentu saja. Apalagi setelah apa yang mereka alami dalam bencana tersebut, tak pantas rasanya pernyataan itu muncul dari mulut siapapun. Bagaimana mungkin manusia bisa menghakimi keislaman seseorang atau sekelompok orang tertentu.
Disisi lain adapula sebagian orang bertanya, “ jika Allah sedang menghukum, mengapa rakyat Aceh? Mengapa tidak rakyat
Jadi……….?
Akhirnya diskusipun ditutup dengan kesimpulan semu dengan mengalihkan objek diskusi pada kelemahan manusia dan keterbatasannya dalam memahami alam dan memaknai takdir Allah. Lebih parah lagi, secara tidak sadar, Allah disandingkan dengan sifat-sifat manusia. Karena maha kuasa maka Ia menjadi inkonsisten, semena-mena. Astagfirullah! Langsung atau tidak, cara berpikir seperti itu mengacu pada tuduhan kepada kewenang-wenangan Allah.
Dan kenyataannya pula, kesimpulan semu itu tidak mampu menjawab gejolak pikiran dan akal yang dimilki manusia. Bahkan pada titik ektrim, kebimbangan ini membawa pada pengingkaran akan eksistensi Allah. Lihat saja kasus mahasiswa IAIN Sunan Gunung Jati Bandung. Pengingkaran mereka akan Allah salah satunya dipicu oleh ketidakmampuan menemukan jawaban atas apa peran Allah dalam berbagai fenomena kerusakan di alam ini. Allah maha pengasih, lalu mengapa begini? Allah maha kuasa, mengapa Ia biarkan umatnya menderita? Jika Allah maha kuasa, mengapa Amerika dibiarkan menang menjajah Irak? Dan banyak lagi pertanyaan lain yang pada ujungnya hanya terjawab oleh sikap mental yang harus dimiliki; itu semua kehendak Allah, itu rahasia Allah dll. Jawaban ini tentu saja bagi sebagian orang sangat tidak memuaskan dan oleh karenanya dimanfaatkan oleh para orientalis dan komunis dan sekularis untuk mengaburkan keyakinan umat beragama akan keberadaan Allah.
Bahkan dalam tatanan kecil individu, secara jujur dalam hati kecil banyak muncul pertanyaan dalam diri manusia dengan keterbatasan imannya, yang disimpan dalam-dalam karena ketakutan akan doktrin semu yang dipahami selama ini. “ Ya Allah, mengapa begini? mengapa hidup kami sulit? mengapa hidup mereka orang-orang ’ kafir’ demikian mudah? bukankah aku telah berusaha dan menjalankan kewajibanku pada-Mu, berserah diri dan sebagainya? Apakah memang aku sudah ditakdirkan begini? Lalu untuk apa aku berusaha?” . Dan pada saatnya nanti, pertanyaan ini akan tumbuh menjadi keraguan, kebimbangan, sikap yang secara tidak disadari akhirnya menyalahkan Allah, namun tidak berani mengakuinya, bahasanya: takut kualat!
Pertanyaan lain yang sesungguhnya banyak muncul dalam benak manusia pada umumnya dan umat muslim pada khususnya adalah: Apakah itu takdir? Apakah itu kehendak Allah? Apakah Aceh hancur karena Allah menginginkannya demikian? Apakah seseorang mati terbunuh dengan cara yang sedemikian mengenaskan karena kehendak Allah? Apakah juga seseorang menikah dengan jodoh yang sudah “ditakdirkan” oleh Allah?
Benarkah ketetapan atau taqdir Allah yang membuat seseorang mati dengan cara ditabrak mobil hingga badannya hancur. Benarkah ketetapan Allah ketika seseorang mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan karena perbuatan mahluk-Nya yang lain. Benarkah 2 orang mahasiswi STIKES Bandung telah ditetapkan oleh Allah untuk meninggal dengan cara demikian? Atau kasus-kasus lain?
Benarkah saya ditakdirkan untuk menjadi orang susah? Benarkah anda ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi orang yang kaya raya? Benarkah mereka ditakdirkan untuk bercerai setelah sekian lama berumah tangga? Bukan jodoh lagi? Jodoh yang merupakan takdir Allah yang dulu bagaimana? Tidak berlaku lagi? Kah? Benarkah Pak Haji itu ditakdirkan untuk beristri 2, ada yang 3,4, 9? Benarkah si Fulan ditakdirkan menjadi orang yang mulia? Sementara si Fulanah menjadi orang yang nista, penghuni komplek Dolly?
Sebagian dari kita mungkin berkata, “Itu sudah takdir-Nya.” Kejadian dan kematian begitu rupa adalah takdirnya. Kah?
Mampukah kita mengatakan bahwa itu semua adalah perbuatan Allah? Ketetapan Allah? Sebaik-baiknya pembuat ketetapan?
Jika begitu, benarlah Desy Ratnasari yang mengatakan, “Takdir memang kejam” . Allah memang kejam?
Masya Allah!
Mampukah kita “berprasangka” sedemikian?
Lalu apakah batasannya? Apa bedanya takdir dengan nasib atau dengan Sunatullah dll?
Takdir, sebagian orang menyebutkan empat hal yang menjadi hak prerogatif Allah, itulah takdir menurut mereka yaitu jodo (jodoh), pati (kematian), bagja (kebahagiaan), cilaka (musibah). Akan tetapi sebagian lagi hanya menyebutkan tiga hal yaitu jodo (jodoh), rejeki, pati (kematian),
Banyak kalangan termasuk mereka yang dianggap kompeten, ahli, ulama dll mendefinisikan makna takdir secara berlainan. Sebagian memandangnya secara sempit atau absurd dengan mengalihkan bahasan kepada sikap mental yang seharusnya dimiliki sesorang terhadap hal tersebut.
Kenapa takdir itu sedikit sekali? Koq hanya empat? Ada yang bilang tiga bahkan?
Takdir/kadar – qodaro, qudrot memiliki arti sebagai ketetapan atau ketentuan. Ketentuan yang berlaku bagi semua mahluk ciptaannya,
“Mahasucilah Allahmu Yang Maha-luhur, Yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Yang membuat segala se-suatu menurut ukuran (qaddara), lalu memimpinnya menuju tujuan” (87:1-3).
“Dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran (taqdir) baginya” (25:2).
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (qadar)” (54:49).
“Dan matahari berputar di tempat yang telah ditentukan baginya, itu adalah undang-undang (taqdir) Allah Yang Maha-perkasa, Yang Maha-tahu. Adapun bulan, Kami tentukan (qaddara) baginya beberapa tingkatan” (36:38-39).
Ketentuan dalam arti sifat yang melekat pada masing-masing mahluk, ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang panas, dingin, besar, kecil dll. Ketentuan dalam arti luas juga disebut dengan hukum yang berlaku. Bukan saja sebagai legal rules, akan tetapi juga hukum alam, hukum fisika, hukum kimia, hukum sosial, ketetapan matematis dll. Itulah sesungguhnya takdir. Hukum yang berlaku tetap pada setiap mahluknya, “….dan tiada sedikitpun ketentuan (takdir) itu akan berubah!” ***
Takdir adalah, bahwa 1+1=2, kapanpun dimanapun. 2+2=4, 4x4=16 dst. Takdir adalah bahwa bumi berputar mengelilingi matahari pada porosnya dengan kecepatan tertentu. Api memiliki sifat panas, dimanapun dan sampai kapanpun tetap panas. Air akan menjadi es pada suhu dingin tertentu. Besi akan mencair apabila dipanaskan hingga beberapa derajat tertentu. Bumi memiliki daya tarik (gravitasi) sehingga apabila sebuah benda dilepaskan dari sebuah ketinggian maka ia tidak akan terbang ke atas. Bahwa ikan hanya bisa hidup dan bernafas di air, sedang manusia tidak bisa.
Takdir adalah bahwa tubuh manusia merupakan sebuah sistem biologis yang komplek. Takdir adalah bahwa tubuh manusia dibentuk dari sel-sel yang berkembang dengan cara membelah tubuh. Mereka kemudian membentuk jaringan, organ dll yang merupakan suatu sistem yang membentuk hidup manusia secara jasmani. Dengan unsur ruhani, maka sempurnalah ia.
Takdir adalah bahwa manusia membutuhkan energi, yang berikutnya harus disuplai dari makanan atau sumber lain. Adalah bahwa paru-paru membutuhkan oksigen yang akan diproses sedemikan rupa hingga akhirnya disebarkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah.
Jadi takdir adalah segala sesuatu ketentuan yang berlaku bagi semua mahluk ciptaan-Nya. Dari sejak yang paling kecil berukuran nano hingga yang terbesar dengan ukuran tera, perhitungan, rumus, formulasi, kombinasi yang paling sederhana hingga yang paling rumit, itulah ketentuan, hukum yang berlaku bagi masing-masing mahluk Allah. Itulah takdir, yang harus dipahami oleh manusia. Yang selama ini lebih dikenal secara umum sebagai sunatullah.
Kematian dalam arti kapan, dimana, bagaimana, oleh siapa seseorang mati, bukanlah sebuah ketentuan, bukan takdir.
Takdir adalah, jika hidung ditutup atau tertutup, maka suplai oksigen akan habis diparu-paru, kemudian otak dan semua organ lain akan kekurangan oksigen. Terjadilah disfungsi organ, disfungsi sistem hidup, pada kondisi ekstrim tertentu berhentilah sistem hidup (jasmani) pada tubuh manusia, maka terjadilah kematian. Mungkin saat itulah malaikat Izrail turun berdasarkan ketentuan Allah, untuk mencabut nyawa. Wallahu a’lam!
Ketika seseorang tertabrak mobil dengan keras pada bagian-bagian vital fungsi-fungsi tubuhnya, maka terjadilah disfungsi. Ketika seseorang kehilangan banyak darah akibat sesuatu hal, sengaja atau tidak, misalnya ditusuk, tertembak dll. Atau ketika tubuh dimasuki oleh zat-zat asing (obat, narkoba, racun dll) maka terjadilah disfungsi sesuai dengan derajatnya. Mungkin pingsan, gila, sakau, koma atau bahkan berhenti sistem hidup jasmaniyahnya, kemudian meninggal.
Sebuah pemikiran sering diungkapkan. Manusia adalah mahluk lemah, tidak berdaya, matanya milik Allah, bergerak sekalipun ia digerakkan oleh Allah, berpikirpun ia di-berpikirkan. Hingga ada pemahaman extrim nihilisme yang mengatakan, manusia adalah mahluk nihil, tak punya apa-apa. Persis seperti wayang, panggung sandiwara dll. Manusia tidak punya hak apapun menentukan jalan cerita. Yang bercerita adalah sutradara. Bahkan yang berbicara pun sesungguhnya adalah dalang atau hanya berdasarkan naskah yang sudah disiapkan sutradara, awal dan akhir dari cerita pun ia hanya menjalani. Lahir, hidup, mati.
Lahir normal atau sesar, sehat atau cacat. Padahal……. “laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim”. Tapi kenapa anaknya terlahir cacat? Lahir miskram. Lahir di rumah sakit, bidan, dukun atau di kamar mandi karena tidak ada bapaknya.
Hidup mulia, sengsara, korup, kaya raya, sederhana. Mati tua, mati muda, mati sebelum lahir, karena sakit atau kecelakaan atau dibunuh orang atau hanya gara-gara terpelesest. Akhirnya masuk surga atau neraka. Apakah semua itu ditentukan oleh Allah? Takdir?
Jika saja dibaratkan, manusia menjalani hidup ini seperti mengarungi sungai. Sebuah sungai besar yang hanya memiliki dua ujung; kemuliaan sejati atau kehinaan yang abadi. Allah menciptakan manusia ke alam dunia dengan memberikan petunjuk. Jika manusia hendak sampai diujung sungai dengan selamat, maka ikutilah pentunjuk yang diberikan, ialah agama. Ikutilah petunjuk Nya, maka niscaya manusia akan selamat sampai tujuan akhir. Tetapi seandainya manusia tidak mau sampai di ujung sungai dengan selamat, maka Allah memberikan kebebasan sepenuhnya untuk mencari jalan sendiri, membuat jalan hidupnya, mengikuti aturan apapun yang ia mau atau ia buat sendiri, berdasarkan apapun yang ia mau. Allah hanya akan menantikan mereka di ujung sungai, di ujung hari, azab atau kemuliaan yang akan mereka peroleh.
“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepada suatu jalan; ia boleh menerima dan boleh pula menolak” (76:3). Ayat lain lagi menyatakan: “Kebenaran adalah milik Allah, maka barangsiapa suka ia boleh mengimaninya, dan barang-siapa suka ia boleh mengingkarinya” (18:29).
Bagaimana manusia menjalani hidup, semua telah diberikan petunjuknya oleh Allah. Allah tidak lagi menentukan jalan hidup yang akan dilalui manusia. Manusia telah diberi segala fasilitas, dan yang paling besar adalah akalnya, untuk menjalani hidup. Manusia akan mampu menguasai segala yang ada di alam ini dengan kecerdasan yang telah Allah karuniakan. “….dan semua yang ada dilangit dan dibumi akan tunduk kepadamu”*** Itulah jaminan Allah kepada manusia. Seluruh Alam jagat raya ini akan mampu ditaklukan, dikendalikan dan dikuasai oleh manusia. Tentang bagaimana caranya, diperuntukan bagi apa, kepentingan siapa, semua diserahkan kepada manusia, karena Allah telah memberikan segala fasilitasnya. Dan yang terpenting adalah Agama sebagai petunjuknya, yang terpenting adalah akhir cerita, pilihan untuk kemuliaan abadi atau sebaliknya.
Pada dasarnya, Allah tidak lagi ikut campur dalam kehidupan manusia. Justru dengan sifat qudrat-Nya itulah ia menentukan aturan, sebaik-baiknya aturan. Yang tidak akan berubah sedikitpun. Karena Allah maha berketetapan, tetap, konsisten dengan ketetapannya sendiri. Tidak akan berubah-ubah atau inkonsisten meskipun Ia maha kuasa. Dengan konsistensinya itulah Ia tunjukan keagungan-Nya, meskipun Allah maha kuasa, ia tidak semena-mena atau bahkan mencla-mencle seperti mahluk-Nya, Subhanallah!
1+1=2, 2+2=4, 4x4=16, 16 lebih besar daripada 4 atau 1. Maka 1 kalah besar dari 16. Itulah sebabnya Amerika menang dalam perang melawan Irak atau dalam permusuhannya melawan umat muslim. Takdirnya adalah: “Kebenaran yang tidak terorganisir akan kalah oleh kezhaliman yang terorganisir” (Ali bin Abithalib). Karena menurut ukuran, menurut hukum alam, menurut taqdir, mereka lebih besar, lebih canggih dan lebih terorganisir dalam berbagai hal. Jadi kunci kemenangan, dalam batasan tertentu, adalah organisasi yang baik, bukan siapa yang benar atau yang salah, muslimin atau kafirin, atau apalagi sekedar karena faktor kuantitas,. Sehingga, tidak sepantasnya kita menyalahkan atau meragukan kekuasaan Allah. Na’udzubillah!
Bagaimana dengan pertolongan Allah yang maha kuasa dan maha penolong? Kita akan bahas dalam kajian selanjutnya, Insya Allah!
Manusia adalah mahluk yang paling mulia, makluk yang paling kuat, mahluk yang paling berkuasa atas mahluk Allah yang lain karena kelebihan akal dan kelebihan lainnya. Itulah sebabnya manusia dijadikan khalifah dimuka bumi ini. Perhatikan api yang panas, mampu membakar apa saja, dengan akalnya manusia dapat menaklukan api, kemudian didayagunakan untuk berbagai kepentingan mereka sendiri. Lihatlah gunung berapi yang besar, mampu meletus dahsyat menghancurkan kehidupan manusia. Akhirnya juga dapat dikendalikan agar tidak meletus, dideteksi dengan semakin canggih, disuntik, bahkan panas dan gas yang dihasilkannya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.
Tsunami? Hanya masalah waktu. Pada saatnya nanti akan dapat dikendalikan oleh manusia, mungkin tidak bisa langsung dihentikan, tapi paling tidak akan bisa dihindarkan akibatnya. Dideteksi dengan lebih dini, dibuat sistem peringatan yang lebih canggih. Sistem tata ruang global yang aman dll. Akal! Itulah kata kuncinya!
Tsunami hanyalah kejadian alam. Planet bumi terdiri dari berbagai lapisan, dan lapisan yang paling atas berbentuk lempeng-lempeng benua. Lempeng ini bergerak karena berbagai fenomena alam yang lain didalam dan diluar perut bumi, termasuk explorasi dan exploitasi perut bumi - pertambangan. Mereka saling berinteraksi. Salah satu akibatnya adalah pergeseran lempeng yang mengakibatkan gempa. Dengan bahasa lain, tsunami hanyalah akibat dari berbagai sabab-musabab yang saling bergantungan. Lebih rinci lagi tentang proses alami ini, silahkan tanyakan pada ahlinya.
Kejadian alam bukan hanya Tsunami, kita semua bisa mengalami apa saja, kapan saja, dimana saja. Mungkin lebih dahsyat dampaknya. Itu terjadi pada semua mahluk Allah. Terjadi pula pada umat sebelum kita, sejak zaman nabi Adam AS hingga saat ini. Yang terpenting adalah, kita telah diberi petunjuk bagaimana menghadapi situasi semacam itu, sabar dan tawakal! Dalam arti sesungguhnya, bukan hanya pasrah terdiam.
Dan hikmah yang terpenting adalah bahwa kejadian seperti itu mengingatkan kita akan kematian. yang bisa datang dengan berbagai cara. Dan kita harus senantiasa siap, well-prepared untuk mati, dan menghadapi hidup setelah mati, pertanggungjawaban. Itulah yang terberat konsekuensinya, pahala dan kemuliaan yang berlimpah atau azab dan kesengsaraan yang abadi.
Rasanya semua sependapat, sabar dan tawakal bukan berarti diam. Ternyata lebih dari itu manusia dituntut untuk berpikir dan berusaha dalam menghadapi berbagai fenomena hidup dan fenomena alam. Sehingga manusia bisa hidup dengan lebih baik.
Dulu manusia bisa mati hanya karena flu atau radang ringan karena belum ada antibiotik. Sekarang?
Dulu, planet bumi yang besar menimbulkan berbagai masalah antara manusia karena jarak, waktu, transportasi, komunikasi dll. Sekarang?
Berbagai masalah yang dulu dihadapi oleh manusia semakin bisa diatasi sekarang. Bahkan bulan bisa didarati. Itulah janji Allah, taqdir Allah! Bahwa semua yang ada dilangit dan dibumi akan tunduk kepada manusia. Disinilah pentingnya menuntut ilmu. Untuk mengendalikan alam jagat raya ini sesuai dengan peruntukannya bagi manusia. Tapi tentu saja, hanya dalam kerangka dan jalan yang di ridhai Nya, jika kita mau selamat.
Tentu saja itu bukan hal yang membuat manusia boleh merasa sombong atas mahluk Allah lainnya. Kelebihan-kelebihan yang telah dikaruniakan ini memiliki konsekuensi dan tanggung jawab yang akan dipertanyakan dikemudian hari.
Oleh karena itu, hidup adalah pilihan, jodoh adalah pilihan (itulah sebabnya umat muslim dituntun dalam memilih jodoh), bahkan kematian sekalipun adalah pilihan, mau mati muda? hiduplah semaunya, narkoba, minuman keras dll, atau mau mati seketika? Bunuh diri atau tantang saja segerombolan preman pasar yang sedang berjudi. Atau mati dalam keadaan mulia? Mudah, ikuti saja petunjuk-Nya, ialah agama.
Jadi tidak benar adanya bahwa jodoh, kematian, kebahagiaan dan kecelakaan yang menimpa hidup manusia adalah hak prerogatif Allah, justru dengan iradat-Nya, Allah telah memberikan hak itu kepada manusia. Meski tentu saja semua dalam kerangka kekuasaan-Nya. Allah maha mengetahui dan maha melihat semua yang terjadi dilangit dan dibumi pada setiap mahkluk ciptaan-Nya
Menjadi kaya, miskin, pintar semua adalah pilihan. Jodoh yang cantik, suami yang setia, istri yang shalehah, anak yang durhaka, harta melimpah, hidup mulia, sengsara itu adalah pilihan. Yang terpenting adalah membuat pilihan yang baik menurut tuntunan agama pada setiap phase kehidupan yang kita jalani. Dan yang terpenting lagi adalah memilih akhir cerita bagi masing-masing diri kita, selamat atau celaka, azab atau kemuliaan, sorga atau neraka.
Wallahu ‘alam bisshawab!
*** ayat-ayat al Qur’an yang dikutip dari penjelasan Bpk Quraish Shihab dalam sebuah acara ceramah di Metro TV, ketika membahas topik yang sama tentang Taqdir & Sunatullah.
Sebuah tulisan lain dengan kajian yang lebih dalam terlampir bersama ini, semoga dapat menjadi bahan kajian lebih lanjut atas wacana ini.
Bandung, 26 Februari 2005
Mmmmhhh........
BalasHapuswah mantab...
BalasHapuswah...bahasan yang menarik ^^V
BalasHapusJika ingin tau lebih ttg wacana ini, maka sebaiknya anda membaca referensi lain disini:
BalasHapushttp://www.4shared.com/file/248861918/8e085a5f/Qodar_atau_Taqdir.html
wah mantap pak...
BalasHapustertarik sama yang ini nih...
“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepada suatu jalan; ia boleh menerima dan boleh pula menolak” (76:3). Ayat lain lagi menyatakan: “Kebenaran adalah milik Allah, maka barangsiapa suka ia boleh mengimaninya, dan barang-siapa suka ia boleh mengingkarinya"....
tuh kan... inti nya mah Iklhas....
Ada sebagian ulama mengatakan ajal itu sudah ditakdirkan semenjak dalam kandungan kapankdia mati jam brapa dia mati hari apa dia mati itu sudah ditetapkan dan tdk ada yg bisa merubah ajal nya walaupun pergeseranya hanya semenit sekalipun. Jd mana yg benar?
BalasHapus